multiply….
July 23rd, 2008 by lareangonhai all… tuk jurnal dan catatan perjalanan plus oto foto updating terakhirku bisa dilihat ke www.ajirachmat.multiply.com
langsung kesana aja ya..
thx..
hai all… tuk jurnal dan catatan perjalanan plus oto foto updating terakhirku bisa dilihat ke www.ajirachmat.multiply.com
langsung kesana aja ya..
thx..
(Artikel di Majalah Explore edisi Januari 2008 - oleh Aji Rachmat)
Angin berhembus ramah menyambut tibanya tim Jejak Petualang (JP) Trans7 siang itu di Kota Kaimana, Papua Barat. Meski panas, kota yang terkenal dengan lagu “Senja di Kaimana” ini menyuguhkan pemandagan alam yang masih asri dan alami. Yoga (asisten Produser), Adi (Kameraman), Asep (Kameraman), Anggun (Host) dan penulis dari tim Jejak Petualang di dampingi oleh Ibrahim (LIPI) dan Fitri berencana merekam aktifitas masyarakat Kaimana dalam mensikapi kekayaan alam dengan kearifan lokal masyarakatnya.
Menuju Kaimana dapat mengunakan kapal feri dari Jakarta dengan waktu tempuh selama 5 hari perjalanan. Akses udara dapat ditempuh dalam waktu sekitar 8 jam hingga 10 jam perjalanan melalui beberapa bandar udara transit. Kami berangkat mengunakan penerbangan malam dari Bandara Soekarno Hatta pukul 20.15 WIB dan transit di Surabaya – Makasar – Ambon – Fak Fak dan berakhir di Bandar Udara Coa, Kaimana sekitar pukul 09.30 WIT. Kaimana dihuni oleh masyarakat yang majemuk dan memiliki rasa toleransi antar umat agama tinggi. Masjid, Gereja, Klenteng dan berbagai rumah peribadatan yang ada di seputar Kota Kaimana terlihat damai dan terawat rapi.
Bercerita tentang sejarah, ternyata penyebaran Agama Islam pertama di Pulau Papua berawal dari district Nama Tota yang berada di salah satu pulau dalam kawasan Kaimana. Sebuah masjid, makam tua dan rumah adat Islam yang hingga sekarang masih dijunjung tinggi dan dirawat keberadaannya oleh masyarakat membuktikan kuatnya pergerakan budaya dan agama Islam yang masuk ke tanah papua melalui Kaimana. Tak heran, jika masyarakat Kaimana didominasi oleh pemeluk Agama Islam hingga hari ini. Kawasan Batu Putih Tim Jejak Petualang memiliki misi untuk melakukan eksplorasi satwa liar dan potensi sosial budaya atas dukungan Pemda Kaimana yang didampingi oleh tim peneliti LIPI. Setelah segala urusan protokoler dengan Dinas Pariwisata dan Pemda Kabupaten Kaimana selesai, kami mulai beranjak melakukan survey lokasi. Kawasan Batu Putih di sebelah utara kota Kaimana menjadi tujuan pertama yang kami datangi.
Sepanjang jalan menuju ke Kilo 14, terbentang tebing batuan karst berwarna putih yang tinggi menjulang. Penambangan batu dan perkebunan coklat serta kawasan hutan alami terlihat sangat indah di kanan kiri jalan. Tanah papua merupakan kawasan surga bagi beragam satwa dan burung - burung langka yang telah dilindungi. Burung Garuda raksasa pemakan manusa telah menjadi mitos masyarakat yang melegenda di Kaimana. Senang, takjub dan haru bercampur aduk saat penulis melihat secara langsung burung Kakaktua Jambul Kuning, Kakaktua Raja, Rangkong, dan beragam jenis burung berbagai ukuran terbang bebas tanpa gangguan di sepanjang perjalanan kami. Kicauan burung cendrawasih di pucuk pucuk pepohonan tinggi semakin menambah indahnya jalur jalan berbatu putih yang kami lalui. Tak mau melewatkan adegan menakjubkan itu, tim kami pun berhenti di tengah jalan mengabadikan peristiwa yang indah ini.
Biawak liar dan soa soa sering kami lihat berjemur di jalanan berbatu dan batang pohon tinggi. Sayang, saat kami dekati untuk upaya identifikasi jenis, sang biawak lebih memilih berlari kencang daripada tinggal ditempat dan berkengkerama dengan tim JP. Setibanya di Kilo 14, sebuah kawasan mata air yang sedang digarap menjadi salah satu tujuan wisata kaimana, kami mulai agenda survey dan orientasi medan. Lokasi pengambilan gambar telah ditetapkan dan tim pun bergerak mencari satwa liar di seputaran kawasan.
Beruntunglah, di kawasan Batu Putih ini kami menemukan seekor ular phyton hijau atau Morellia viridis yang merupakan satwa endemik Papua, yang artinya species ini hanya terdapat di belahan bumi papua. Sanca hijau ini telah masuk k status appendix 1 atau dilindungi. Informasi adanya gua dari warga sekitar kami tangapi dengan mencoba berpetualang dan masuk ke dalamnya dengan peralatan standard yang selalu kami bawa. Masih mudanya usia batuan karst dan banyaknya pecahan batu yang jatuh di lantai gua memaksa kami cukup berhati hati dan waspada terhadap segala kemungkinan. Apalagi masih liarnya kawasan dengan keanekaragaman satwa yang ada dapat menambah tingkat bahaya saat kami masuk ke gua gua disana.
Sasigama – adat pelestari alam
Kabupaten Kaimana berada di pinggir laut luas yang menghadap ke lautan Arafuru, dimana pahlawan Yos Sudarso gugur saat berusaha merebut tanah papua dari penjajah saat itu. Mata pencarian warga sebagian besar menjadi nelayan dan menggantungkan dari hasil laut. Dan yang luar biasa dari Kaimana adalah masih dijunjung tingginya sebuah adat beralaskan konservasi alam dengan nama SASIGAMA. Adat sasigama ini merupakan ketentuan yang telah lama disepakati masyarakat tentang aturan kapan diperbolehkan untuk mengambil hasil laut berupa tripang, kerang dan bia dan kapan saatnya pengambilan hasil laut tersebut dilarang keras. Bagi yang melanggar ketentuan adat ini akan di denda hinga Rp 25 jt per orang.
Kami cukup beruntung hadir di Kaimana saat adat ini akan dibuka, artinya telah masuk waktunya masyarakat diperbolehkan mengambil hasil laut setelah lebih dari 4 bulan dilarang karena berlaku adat Sasi. Kami pun diajak masyarakat pulau Adi untuk bersama - sama seluruh penduduk desa turun ke laut membuka adat sasi. Upacara yang sederhana diawali doa oleh tetua adat. Setelah persiapan di darat selesai, seluruh warga desa turun ke laut menggunakan cukup banyak longboat, sebuah perahu tradisional bermesin tunggal, menuju ke lokasi buka adat sekitar 3 mil dari pantai. Setiba di lokasi, Tetua Adat mengibarkan bendera yang menunjukkan semua warga dapat mulai turun ke laut secara serentak mengambil tripang, kerang dan ikan. Maka terjun lah anak – anak, pemuda, para orang tua bahkan ibu - ibu rumah tangga untuk menyelam ke dasar laut hingga 10 meter berburu tripang tanpa alat bantu selam.
Mereka berburu hanya bersenjatakan kacamata, tombak dan bahkan bertangan kosong. Adegan demi adegan kami abadikan dengan kamera diatas boat dan di bawah air. Teriakan senang, gembira dan saling tunjuk hasil buruannya mewarnai siang itu di tengah laut yang sangat tenang seolah memberikan waktu bagi masyarakat Kaimana mengambil jatah hidup mereka setelah berdamai dengan alam. Sungguh pengalaman yang luar biasa..
Konservasi lingkungan berbasis adat pastilah dapat berjalan dengan baik dan abadi. Sepatutnyalah pemerintah mendukung dan mengembangkan adat istiadat seperti sasigama ini sebagai dasar pengelolaan dan pelestarian hidup berbasis masyarakat.
Teluk Triton
Hari berikutnya, tim Jejak Petualang bergerak ke sebuah teluk yang sangat indah dan kaya akan aneka biota laut. Kami membutuhkan waktu selama hampir 3 jam menuju ke Teluk Triton menggunakan speedboat 2 mesin milik Pemda Kaimana. Tim bersama warga lokal dan anak buah kapal menginap di salah satu sudut teluk yang telah dikelola olah dinas pariwista dengan membangun 3 buah rumah peristirahatan berbasis adat yang cukup unik. Uniknya wisma tradisional ini adaah dibuat dengan bahan baku kayu dan berdinding kulit kulit kayu alami. Bangunan ini didirikan tanpa menggunakan paku dan bahan logam apa pun. Tanpa sinyal HP, televisi, radio dan sangat sepi, sunyi serta tenang semakin menambah indahnya teluk Triton, belahan bumi papua yang belum tersentuh oleh peradaban.
Meski belum cukup terkenal di Indonesia, Teluk Triton atau yang dulu dikenal dengan triton bay, telah sering didatangi para wisatawan asing dan para penyelam (diver) dari berbagai negara. Keanekaragaman ikan, terumbu karang, bahkan pesona lumba lumba dan ramainya ikanpaus bermain di sela pulau – pulau yang tersebar di Triton telah mengundang para petualang bawah laut untuk mengabadikan keindahan itu di triton. Liputan kami pun didominasi oleh adegan - adegan bawah laut dimana Anggun, presenter JP, melakukan diving didampingi dive master lokal dan peneliti dari LIPI untuk mengabadikan identifikasi biota bawah laut Teluk Triton. Tak berhenti di dasar lautan saja, keunikan Triton juga dapt kita temui dengan adanya lukisan di dinding batu yang mengguratkan aneka ragam satwa serta perilaku masyarakat pribumi kuno. Tidak ada yang tahu persis kapan dan siapa yang membuat lukisan dinding yang berdiri tegak di beberapa pulau kecil kawasan teluk triton. Misteri ini merupakan nilai tambah yang layak untuk di nikmati sebagai objek wisata purba teluk Triton dan bahkan menjadi pekerjaan rumah bagi para arkelog kita.
Hampir setiap sore kami mencoba mengabadikan momen yang melegenda saat turunnya matahari senja di Kaiman. Namun karena musim penghujan yang membawa mendung dan cuaca yang kurang bersahabat, kami kurang beruntung mendapatkan suasana senja di Kaimana, seperti yang di dendangkan sebuah lagu lama.
….Senja di Kaimana
….Tempat pelipur lara… ……….
Hari pun berganti.
Tak terasa kami telah menghabiskan waktu selama 17 hari di Kaimana. Sudah saatnya kami kembali berpetualang menghadapi macetnya Kota Jakarta meski masih belum puas kami berpetualang di Kaimana, sebuah permata yang tersembunyi di Papua. Saksikan terus Jejak Petualang di Trans7 setiap hari Senin s.d. Jum’at pukul 16.00 WIB.
Sampai jumpa……
Jangan Bunuh Ular ! (JBU)
Adalah sebuah kampanye untuk mencegah pembunuhan ular mengingat masih banyak lapisan masyarakat yang masih saja melakukan pembunuhan terhadap ular - ular di segenap penjuru Nusantara.
hanya ada dua alasan mengapa ular sangat gampang dibunuh siap pun …
1. Ular adalah satwa yang sangat ditakuti
2. Ular menjadi barang komoditi
seperti yang kita tahu.. bahwa ular dianggap satwa yang palling mematikan, paling berbahaya, paling menjijikan bagi manusia. padahal jika kita liat beragam referensi, satwa yang paling mematikan dan beracun bukanlah ular. namun seekor katak yang hanya ada di benua amerika nun jauh disana. satwa yang dianggap paling berbahaya tidak bisa ditentukan karena sangat terpengaruh oleh habitat dan populasinya… sedangkan ualr dianggap menjijikkan karena dianggap berlendir, memiliki bau yang menyengat dan kotor.
Eksploitasi kulit ular untuk komoditi dalam negeri dan ekspor, daging ular sebagai makanan, serta empedu ular yang digunakan sebagai bagian dari ramuan obat obatan (medis) semakin tidak terkendali di mana mana. Jaringan pemburu - pengumpul dan bahkan jaringan pedagang kelas kakap yang memperdagangkan semua bagian dari ular sangat kuat keberadaannya di berbagai kota seluruh Indonesia. hal ini terjadi karena masih adanya cukup ketersediaan bahan di alam yang ditunjang oleh tingginya permintaan akan kulit dari manca negara.
……membunuh ular liar, yang masih merupakan bagian dari rantai hidupan dalam ekosistem, dimana pun tempat dan keberadaannya akan berakibat buruk bagi manusia sendiri. Meledaknya populasi tikus karena predator alaminya (ular) telah menghilang adalah salah satu dampak langsung jika ular dibunuh/diambil dari habitat alami nya.
dampak lain yang muncul dari sisi psikologis adalah semakin menipisnya rasa penghargaan terhadap alam dan segala yang ada didalam nya meski pun berbahaya namun tidak menjadikan alasan kuat untuk ditiadakan (dibunuh). ketidakadanya penghargaan ini sedikit demi sedikit memupuk rasa ketidakpedulian, ketidakmautahuan, dan bahkan malah semakin meningkatkan motivasi untuk merusak alam atau mengekploitasinya tanpa usaha regenerasi hanya karena sebuah tindakan pembunuhan terhadap satwa liar (baca ular)
memang ular adalah satwa liar yang berbahaya, perlu dihindari meski pun memiliki cukup banyak manfaat dibidang medis. Tetapi membunuh ular yang lahir dan hidup di alam liar akan semakin merusak keseimbangan ekosistem di lingkungan itu.
so………..
JANGAN BUNUH ULAR
diajak jalan jalan lagi … siapa yang gak mau .. ??
pas lagi suntuk - suntuknya ngurusin amanah satu badan usaha baru di jakarta, ada yang ngajak jalan lagi untuk kontrak ndampingi presenter Jejak Petualang Trans7 trip sebulan.. langsung deh jadi prioritas hidup untuk agenda bulan agustus september ini…
tgl 17 gustus malam kita berangkat dari cengkareng numpang GA 432 tujuan ampenan, matarm lombok.. target syuting selama satu bulan cari 8 episode petualangan khusus satwa… sampai hari ini sudah kelar 4 episode yangkita ambil di gili trawangan (benar2 nrawang), lereng gunung rinjani (tapi gak sempat naik… hiks.. ) dan di ujung kaki sembalun yang gelar upacra adat untuk persembahan bumi, air dan tanah…
petualang memang harus hidup berpetualang…
Alhamdulillah masih diberi ruang dan waktu untuk menikmti alam hasil karya Nya..
Rifqi Arajuda Alam….
..yang berarti teman yang menghargai alam.. satu nama kuberikan tuk sosok mungilku yang lahir 29 Juli 2006 lalu.. berharap akan menjadi seorang teman untuk sang alam …
nanti kan kiprahnya dimasa mendatang..